Selasa, 17 Mei 2016

Sepucuk Surat Untuk Mama

Sepucuk Surat Untuk Mama

Mama
Aku memilih pergi bukan karena aku mandiri atau tak lagi menyayangimu
Engkau tetaplah cinta pertama yang dikenang setiap janin manakala nyawa mulai diracik

Keterpisahan adalah ujian
Ujian yang menyadarkanku bahwa cintamu adalah kemurnian
Dan agar jantungku senantiasa merindu pada dekap hangatmu

Aku memang memilih untuk melupakan
Karena berusaha melupakan justru akan membuatku semakin mengenang
Rasa demi rasa yang menyiksa dada ini

Aku ingin menangis
Menendang-nendang dinding perutmu
Memeluk diri sendiri bersama masa lampau
Bersama kenangan
Dan bersama mimpi-mimpi tentangmu


(Untuk Mama, Jakarta, 2 Mei 2016)

Selasa, 16 Februari 2016

PUISI: Jarak

JARAK


Bolehkah aku melayangkanmu langit biru
Lewat larik-larik sendu
Yang kulempar di tengah deru

Maukah kamu mengudarakanku nada syahdu
Lewat lirik-lirik lagu
Yang kamu lantun di dalam kalbu

Aku disini bertemankan sepi
Kamu disana berkawankan sendiri
Kita terpisah dalam ruang elegi
Merutuki jarak yang tak punya hati


(Serangkai puisi yang ditemani gelontoran hujan
Cisauk, 24 Januari 2016)

Rabu, 13 Januari 2016

Puisi: AKU INGIN

AKU INGIN


Aku ingin menemui engkau sebagaimana rembulan ingin berjumpa dengan siang hari
Terisak dia lara, bersolek dia pada mustahil

Aku ingin menyentuh engkau sebagaimana bumi ingin menggapai permadani biru
Tersungkur dia hancur, berharap dia pada udara

Aku ingin menyapa engkau sebagaimana awan ingin mencumbu ruang angkasa
Terbang dia bebas, bersesat dia pada hamparan tak bertepi

Aku ingin memeluk engkau sebagaimana minyak ingin menyatu dengan air
Terapung dia pasrah, berserah dia menyerah

Dan aku ingin mencintai engkau sebagaimana api dengan mudah membakar pepohonan
Sungguh, aku ingin...
Namun bagai selayang sukma yang tak beraga
Aku hanya sanggup mengkhayalkan engkau sekadar untuk merasakanku

(Serangkai puisi untuk mengenang aku yang mencintai kamu dengan tidak tepat.
Puisi ini membersit ketika aku tengah mandi sore

Bandung, 11 Oktober 2015)

Senin, 11 Januari 2016

Puisi: DUA SISI SEMESTA

DUA SISI SEMESTA


Segemilang apapun cahaya, dia takkan punya arti bila gulita tak mendampingi
Cahaya hanya akan jadi materi yang hampa

Segelak apapun tawa, dia takkan punya makna bila tangis tak mengawali
Tawa hanya akan jadi candu yang hambar

Dan sehebat apapun hidup, dia takkan punya definisi bila mati tak mengakhiri
Hidup hanya akan jadi jalan yang jemu

Laksana dua wajah dari sekeping koin
Beginilah rancangan semesta yang dualistis
Dua sisinya melebur dan membentuk kehidupan
Tak pernah ada yang tunggal
Terkecuali Sang Maha Semesta

(Serangkai puisi yang membersit saat mandi pagi
Jakarta, 10 Desember 2015)

 Oleh: Septian Hung


Minggu, 10 Januari 2016

Puisi: PULANG

PULANG



Kau paksa aku ke dalam ruang yang tak berkesempurnaan
Kau lempar aku ke dalam waktu yang tak berkeabadian
Aku tak pernah meminta
Sungguh, Kau yang memberi walau aku tak sudi

Wahai gelombang, denyut, dan udara
Berputus-asalah kalian bersemayam
Aku tak rela, aku tak pengin
Aku mau pulang! Pulang!


(Serangkai puisi untuk mengenang aku yang pengin pulang
Jakarta, 18 Desember 2015)

 Oleh: Septian Hung


Rabu, 06 Januari 2016

Selamat Datang :)


Selamat datang, pengunjung-pengunjung sekalian. Terima kasih telah meluangkan waktu sejenak untuk mampir ke blog yang saya buat khusus untuk mencatat sejarah kepenulisan dan juga sebagai sarana untuk membagikan karya-karya yang berhasil saya tulis.

Bagi saya, 16 Agustus 2015 merupakan tanggal yang bersejarah. Tanggal itu adalah tanggal awal dimana saya mulai kembali menulis setelah lebih dari sepuluh tahun saya membeku dan membiarkan ide-ide yang melintas dalam benak terabai begitu saja. Namun entah apa yang membersit pada saat itu, tepatnya malam-malam sekitar jam sepuluh, saya seperti mendapat wangsit untuk kembali menulis. Dan akhirnya saya menulis tanpa persiapan apa-apa. Tanpa pemetaan alur cerita, tanpa perencanaan matang karakter-karakter yang kelak akan muncul, dan juga tanpa pernah tahu epilognya akan bagaimana. Malam itu, saya hanya ingin menulis dan menulis. Alhasil, tulisan pertama saya yang setelah sepuluh tahun tidak mengasah kemampuan ini pun menjadi tak keruan dan sulit dimengerti. Saya perlu berkali-kali memetakan ulang tulisan tersebut dan sekarang pun masih dalam proses perampungan. Semoga suatu hari kelak, tulisan yang saya beri judul Anomali tersebut bisa segera diterbitkan dan menemui para pembacanya.

Melalui blog ini, saya ingin membagikan sekilas kutipan-kutipan yang ada dalam Anomali, termasuk pula puisi dan cerita pendek lepasan lainnya. Dan terlepas dari itu semua, saya juga akan membagikan pengalaman yang saya peroleh dari pembelajaran-pembelajaran yang saya pelajari dari para penulis senior, termasuk teknik menulis yang sebetulnya bisa dipelajari oleh siapapun.

Akhir kata, saya cuma bisa mengucapkan terima kasih yang mendalam bagi pengunjung sekalian yang telah setia mengikuti perjalanan ini. Selamat membaca, dan semoga kalian bisa terinspirasi untuk ikut menulis.

Salam.
Septian Hung.