Sepucuk Surat Untuk Mama
Mama
Aku memilih pergi bukan
karena aku mandiri atau tak lagi menyayangimu
Engkau tetaplah cinta
pertama yang dikenang setiap janin manakala nyawa mulai diracik
Keterpisahan adalah
ujian
Ujian yang
menyadarkanku bahwa cintamu adalah kemurnian
Dan agar jantungku senantiasa
merindu pada dekap hangatmu
Aku memang memilih
untuk melupakan
Karena berusaha melupakan
justru akan membuatku semakin mengenang
Rasa demi rasa yang
menyiksa dada ini
Aku ingin menangis
Menendang-nendang
dinding perutmu
Memeluk diri sendiri
bersama masa lampau
Bersama kenangan
Dan bersama mimpi-mimpi
tentangmu
(Untuk
Mama, Jakarta, 2 Mei 2016)